Rabu, 24 Desember 2008

Hidayat Usulkan Gerakan Pemilih Cerdas



JAKARTA (SINDO) – Gerakan pemilih cerdas yang dideklarasikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mendapat dukungan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid.

Hidayat menilai kampanye gerakan pemilih cerdas sangat penting pada Pemilu 2009. Gerakan ini sangat penting untuk menekan tingginya angka golput sebagaimana dilansir sejumlah lembaga survei. “Saat ini lebih baik kita bicara bagaimana menyukseskan Pemilu 2009.Semua kalangan,saya pikir,perlu menyukseskan pemilu, salah satu caranya adalah dengan mengampanyekan pemilih cerdas. Pemilih bisa menghukum wakilnya yang telah gagal memegang kepercayaan.

Caranya dengan tidak lagi memilihnya,bukan berarti harus golput,” kata Hidayat di sela-sela pelantikan Pengurus Pusat KAMMI di Jakarta kemarin. Menurut Hidayat, upaya menekan angka golput sangat penting agar kelak tercipta parlemen dan pemerintahan yang kuat dan memiliki legitimasi kuat.Selain itu,menekan angka golput juga sangat berperan dalam menciptakan hasil pemilu lebih berkualitas. Alasannya, yang punya kecenderungan untuk golput adalah pemilih yang cenderung terpelajar yang merasa apatis terhadap parpol atau calon yang diusung parpol.

“Karena itu saya mewacanakan agar masyarakat semakin dewasa dalam pemilu,”ujar mantan Presiden PKS ini. Sebelumnya HMI telah mengampanyekan gerakan pemilih cerdas sebagai perlawanan terhadap tingginya golput. Gerakan pemilih cerdas juga diperlukan untuk meningkatkan kualitas demokrasi. Di tempat sama, anggota Badan Pemenangan Presiden (BP-Presiden) PDIP Budiman Sudjatmiko menyatakan, penting bagi semua kalangan untuk ikut berperan mengampanyekan pemilih cerdas. Jika pemilih tidak cerdas dalam memberikan pilihan, akan ada implikasi pada kesalahan dalam menentukan juru selamat.

“Ibarat mau mencari juru selamat, malah yang dipilih adalah pencuri. Itu bisa terjadi karena maraknya politik pencitraan yang dilakukan oleh politisi,”katanya. Sebagaimana diketahui, berdasarkan pengalaman sejumlah pilkada, jumlah golput diperkirakan sekitar 40–45%. Begitu juga hasil survei sejumlah lembaga penelitian.Bahkan hasil polling Lembaga Survei Indonesia (LSI) menemukan ada sekitar 80% suara swing voter. Dari jumlah tersebut,35% lebih berpotensi golput. (rahmat sahid)



Sumber: HU Seputar Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar