Jumat, 28 Agustus 2009

Kegigihan Sang Anak

Anak adalah titipan Allah Swt. yang harus kita pelihara dan harus selalu di pupuk bukan hanya untuk fisik dan akalnya, tapi juga sisi ruhiyahnya. Kesimbangan antara akal dan imannya memang harus tetap dipertahankan. Karena anak-anak akan selalu berbicara untuk memuluskan semua kemauannya pada kita dengan dasar fakta.
Anak-anak memang tumbuh dan berkembang dengan akal dan fitrahnya yang suci. Dia tidak perlu memikirkan untuk apa sesuatu itu, tapi bagaimana caranya agar semua yang diinginkannya terpenuhi, walaupun sesuatu itu sebenarnya tidak kita inginkan.
Berbicara tentang bagaimana jenius anak-anak, maka mereka akan menggunakan berbagai cara untuk “menundukkan” orang tuanya dalam pemenuhan keinginannya. Kadang saya melihat seorang ibu menyerah akan permintaan anaknya, yang sebelumnya di tolaknya karena ada seorang tamu yang berkunjung ke rumahnya. Anak dengan segala akalnya, akhirnya melihat kesempatan itu untuk menganggu komunikasi sang tamu dan ibunya dengan cara merengek untuk bermain play station (PS). Padahal sang ibu dan anak telah berkomitmen untuk bermain PS hanya pada hari libur saja.
Begitu pula ketika kita berada di sebuah keramaian, semisal di swalayan, biasanya sang anak akan berkesempatan membeli sesuatu yang lama diidamkannya. Caranya tentu saja dengan merengek terus menerus ataupun akhirnya menangis dengan keras. Orang tua yang tidak ingin merasa bising, atau pun malu karena anaknya ribut, maka dengan mudahnya menyerah pada keinginan sang anak.
Anak kita memang pandai. Jangan menganggap sang anak, adalah anak yang tidak tahu apa-apa. Karena dia tahu persis bagaimana caranya untuk mendapatkan semua yang diinginkannya. Maka sang anak akan belajar dari waktu ke waktu, strategi apa yang bisa dilakukannya untuk meruntuhkan hati orang tuanya.
Jadi sebagai orang tua, kita memang di tuntut untuk dapat jeli memahami anak. Apakah kemauannya itu positif atau tidak. Ataukah bila memutuskan sesuatu pada sang anak anatara boleh atau tidak, seharusnya kita berfikir yang matang dulu. Karena jangan-jangan kita hanya memikirkan kondisi “yang tidak enak’ saat itu saja. Hingga dengan mulusnya sang anak mendapatkan “sesuatu: yang sebenarnya belum saatnya dia miliki..
 Anak kita memang di ciptakan untuk selalu belajar. Saat kita merasa anak kita tidak tahu tentang apa pun, semisalnya pertengkaran sebuah keluarga, maka disaat yang tidak di sangka-sangka dia akan bisa mengeluarkan argumentasinya tentang sebuah keluarga itu. Ini dapat berlaku, karena memori anak masih sangat sedikit. Apa pun yang terjadi di lingkungannya akan mudah di masukkannya ke otak. Dia selalu mengamati liingkungannya, walaupun tanpa dia dan kita sadari. Anak adalah pengamat sejati. Karena memang dia ditakdirkan untuk selalu belajar dari lingkungannya.
Jadi berhati-hatilah bila mengeluhkan kelakuan seseorang, mungkin saja di saat lain dia akan berbicara pada orang tersebut tentang ketidak sukaan orang tuanya pada mereka. Nah!  Ini  membuat urusan kita sebagai orang tua bisa panjang.
Anak yang  menggunakan berbagai cara untuk men-goal-kan keinginannya, sebenarnya menunjukkan kegigihan mereka untuk meraih cita-cita mereka. Mereka terlatih sejak kecil untuk tidak mengenal kata menyerah. Jadi kita sebagai orang tua tidak perlu risau, atas setiap rengekan anak, karena kita tahu mereka melakukan sebuah usaha yang gigih untuk mencapai harapannya.
egigihan anak adalah sebuah karakter yang bagus untuk kita pupuk. Anak yang mulai kecil terbiasa untuk tidak selalu berkata “ya” pada kita orang tuanya, sebenarnya perlu kita pelihara. Kita memerlukan kecerdasan dan ilmu, untuk memberikan semua argumentasi kita yang bisa mereka pahami untuk semua tuntutan mereka. Jadi sebenarnya kita tidak boleh berhenti belajar, karena anak kita yang tumbuh membesar, sangat perlu di dampingi oleh orang tuanya. Orang tua yang punya pengetahuan yang cukup tentang apa pun yang diperlukan oleh anak, tentunya. Maka sampai di sisi ini, sebenarnya peran kita orang tua sangatlah berat. Karena kita tidak boleh berhenti belajar, karena anak menuntut kita untuk selalu tahu tentang apa pun yang ingin mereka ketahui. Apalagi saat pergaulan bebas saat ini, tentu saja kita harus menyiapkan banyak strategi untuk dapat membuat anak yakin, bahwa kita orang tuanya bukan melarang mereka bergaul, tapi bagaimana menanamkan nilai-nilai agama yang luhur pada jiwa mereka.
Penanaman nilai luhur ini tidak bisa anak tangkap, bila kita orang tuanya tidak seia sekata dalam perbuatan. Jika orang tua hanya pandai menceramahi sang anak, maka jangan harap anak akan mengerti yang kita inginkan padanya. Faktor yang paling penting memang sebuah keteladanan bagi anak-anak kita.
Anak akan tahu, bahwa sebuah nasehat dari kita, hanyalah sebuah ucapan, maka tentu saja dia akan mengabaikannnya. Lain bila kita  memberikan contoh dalam kehidupannya sehari-hari tentang apa dan bagaimana kita mengisi hidup kita, maka anak yang fitrahnya selalu ingin meniru liingkungannya, lingkungan terdekatnya khususnya, akan dengan mudah berprilaku sesuai yang kita harapkan.
Kembali kepada kegigihan sang anak. Anak saya yang kedua, Yazid ( laki-laki berumur 8 tahun ) merupakan anak tengah, yang  tidak mengenal kata menyerah. Semisal pada sebuah permintaannya saat ini. Dia menginginkan sebuah permainan monopoli. Permainan itu telah dimainkannya bersama teman-temannya. Dia sangat menyukai permainan itu, dan berharap dapat  memilikinya.
Karena sifat gigihnya, maka di setiap waktu, dia akan bercerita tentang “monopoli tersebut. Baik saat belajar, bermain maupun saat makan.
Saat saya makan, Yazid yang telah selesai makan, mulai lagi berkomentar. Hingga ayahnya mengatakan padanya, bahwa saya masih makan jangan diajak untuk bicara. Tapi apa yang dikatakannya? Jawabannya membuat saya dan suami tersenyum.
“Mama jangan bicara, tapi jika menyetujui mengangguk saja”. Lho? Kami pun tersenyum, dan hampir saja tertawa di meja makan. Tapi kami diam saja. Maka Yazid berkata : “ Ternyata ma, monopolinya adik Nazma di beli dekat saja tempatnya, harganya murah lho ma, dua belas ribu saja. Boleh kan ma aku beli?”
Yazid memang punya uang tabungan yang saya simpan. Jadi dia boleh membelanjakan uangnya sesuai keinginannya bila saya setujui. Tapi sebelumnya kami telah sepakat untuk membeli permainan tersebut bila telah libur panjang, jadi bukan saat ini.
Lain permainan monopoli, maka lain lagi saat bulan Ramadhan ini. Saat ini saya banyak keluar rumah untuk sebuah urusan. Maka saat ayahnya yang nungguin anak-anak di rumah, maka Yazid berkesempatan main sepeda sesukanya, padahal telah saya wanti-wanti untuk tidak banyak bermain yang memerlukan energi lebih, seperti main sepeda tersebut. Ternyata dia telah bersepeda dengan temanya lebih dari dua jam, mengitari gang kami. Maka wajahnya pun nggak karuan, karena kelelahan.
Saat saya datang, maka saya disambut dengan ucapannya :” Ma, aku puasa setengah hari saja. Aku kehausan. Aku nggak tahan lagi rasanya ma.” Dia mulai lagi dengan argumentasinya. Sebelumnya, ayahnya telah membisikiku, tentang keinginan sang anak. Ayahnya hampir menyerah, untuk menyuruhnya minum saja, tapi aku tidak ingin itu terjadi.
Saya punya pendapat, bila kami dan anak sepakat untuk berpuasa penuh, maka haruslah ditaati. Yah cara mentaatinya tentu saja sesuai prosedur. Seperti saat berpuasa ini. Jika dia sepakat untuk berpuasa penuh, maka konsekuensinya tentu saja dia harus berpuasa hingga saat adzan Magrib berkumandang, apa pun resiko yang harus ditanggungnya.
Saya tidak ingin dia terbiasa untuk melepaskan kesepakatan, karena dia lalai untuk menjaga faktor-faktor untuk mencapai kesepakatan itu. Dia telah tahu, bila dia bersepeda terlalu lama, maka dia tidak akan mampu berpuasa seharian. Maka saya pun memberinya pelajaran hari ini, untuk tidak coba-coba melanggarnya. Walaupun sebenarnya dalam hati kecil ini, terasa ada sebuah rasa kasihan padanya.
Tapi rasa kasihan itu dapat saya pendam dalam-dalam. Saya ingin sang anak punya sikap tegar untuk sebuah keputusan yang telah di ambilnya. Saya tidak ingin, dia akan terbiasa melanggar semua janjinya dengan cara berbuat “sesuatu” yang membuatnya punya dasar untuk melanggarnya. Harapan saya Yazid dapat menerima ini dengan ikhlas, demi kebaikannya.
Ternyata dia pun maklum dengan keputusan saya. Tidak ada kata untuk berbuka di siang hari. Karena saya telah mengatakan kepadanya, bahwa Ibunya tidak akan mengurusnya lagi karena dia telah coba-coba berbuat untuk melanggar janjinya sendiri. Maka dia pun dengan patuh, untuk tidur siang setelah shalat Dzhuhur. Karena dia sangat lelah, saat adzan Ashar berkumandang dia tidak bisa bangun.  Maka saya pun memakluminya untuk shalat Ashar pada jam lima sore harinya, karena sangat tahu dia memang tidak mampu untuk bangun tepat waktu.
Kami sebagai orang tua dari Yazid, sangat berharap padanya, sifat gigih yang dimilikinya dapat dia genggam erat  untuk kehidupannya di masa mendatang, terutama kegigihannya untuk menjadi orang yang di cintai oleh sang Pencipta-Nya. Allahumma Amin.
 Sengata, 25 Agustus 2009
 Halimah Taslima
 Forum Lingkar Pena ( FLP ) Cab. Sengata

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar