Selasa, 18 Agustus 2009

Tahun 2005 Daarut Tauhiid Rencanakan Bangun Stasiun TV

Tahun 2005 Daarut Tauhiid Rencanakan Bangun Stasiun TV


BANDUNG--Tahun 2005 Pondok Pesantren Daarut Tauhiid (DT) berencana membangun sebuah staisun televisi Islami. Berbicara dalam kesempatan Silaturahmi Ulama Kota Bandung yang diselenggarakan Radio Ummat MQ 1026 AM dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bandung, Rabu (16/1) malam lalu, pimpinan DT KH Abdullah Gymnastiar menyatakan usaha ke arah itu tengah dirintis.

KH Abdullah Gymnastiar yang akrab disapa Aa Gym itu, mengemukakan stasiun televisi itu nantinya operasional siarannya disesuaikan dengan syariah Islam. Ide itu, kata Aa Gym, terinspirasi dari penayangan program Manajemen Qolbu di televisi swasta selama bulan Ramadhan tahun lalu.

Dikatakannya, berdasarkan informasi dari pihak televisi swasta tersebut, acara yang diisinya itu menempati rating yang tinggi. Upaya mewujudkan stasiun itu lanjut Aa Gym saat ini tengah dirintis meski perlahan. Saat ini, kata Aa Gym, DT baru mempunyai production house. "Insya Allah, tahun 2005 nanti rencana ini sudah terlaksana," ujar Aa Gym.

Namun, Aa Gym buru-buru menyatakan, meski gagasan itu datang dari pihaknya, semua ulama dapat mendukung rencana itu. Ia berkali-kali menegaskan bahwa rencana itu bukan semata-mata untuk kebesaran nama Darut Tauhiid, melainkan untuk kemaslahatan umat Islam.

Selain terinspirasi oleh tayangan acara dakwahnya di televisi, Aa Gym juga mengungkapkan bahwa inspirasi itu utamanya berangkat dari kesuksesan siaran Radio Ummat MQ 10,26 AM.

Melihat perkembangan Radio Ummat tersebut, Aa Gym menilai peluang untuk menghidupkan media Islam masih sangat terbuka luas. Hal itu, kata dia, terlihat dari antusiasme khalayak dan pemasang iklan yang semakin meningkat.

Menanggapi usul yang diajukan seorang peserta tentang penggabungan radio FM dan AM milik Daarut Tauhiid, menurutnya, itu tidak perlu dilakukan. Pasalnya, kata Aa Gym, segmentasi sangat penting bagi suatu media. Aa Gym menjelaskan, kedua radio yang berbeda gelombang itu memiliki segmentasi yang berbeda untuk menembak sasaran khalayaknya masing-masing.

Menurut Aa Gym, segmentasi itu sangat penting karena dapat memperkuat posisi suatu media. "Kalau perlu, kita harus mendirikan radio khusus untuk anak-anak," tambah Aa Gym berseloroh.

Kuatnya posisi media itu secara langsung akan dapat digunakan sebagai sarana dakwah. Oleh karena itu, sambung Aa Gym , ulama Bandung hendaknya tidak antipati terhadap perkembangan teknologi, khususnya yang berbasis teknologi informasi. Sebaliknya, media massa yang tidak terlepas dari kemajuan teknologi informasi itu harus dapat dimanfaatkan sebagai perangkat dakwah.

Dengan menguasai media, umat Islam dapat melawan ghawzul fikri (perang pemikiran) yang saat ini sedang berkembang pada dunia media massa di Indonesia dan digencarkan media barat.

Kepada Republika, Aa Gym mengaku optimistis dengan perkembangan media yang membawa misi ke-Islaman. Namun ia mengingatkan, supaya hasilnya efektif media tersebut harus dikelola secara profesional. "Selain itu, kredibilitas harus tetap diutamakan," tambahnya. Karena, ia yakin media massa merupakan strategi potensial yang yang dapat digunakan untuk berdakwah.

Senada dengan Aa Gym, Ketua MUI Bandung, KH Miftah Faridl menyerukan agar para ulama menggunakan media untuk berdakwah. Sebab, ia menilai, saat ini umat muslim belum optimal dalam menggunakan media termasuk media yang berbasis keislaman.

____________________
sumber : pesantren.net

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar