Rabu, 19 Agustus 2009

Renungan Kebangsaan : INDONESIA DISERANG

Renungan Kebangsaan : INDONESIA DISERANG !


ANTARA TEORI DAN FAKTA

Hampir selama seminggu ini, bangsa Indonesia dibombardir oleh informasi yang telah diolah,oleh sebagian besar media massa asing dan domestik, sehingga dipahami seolah sebagai fakta. Ledakan bom -beserta ratusan korbannya- di Legian, Kuta, Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 yang lalu adalah fakta, sementara "serangan teror" hanyalah teori-lebih tepat disebut hipotesis- yang dibangun di atas fakta itu. Dalam hujan informasi tersebut,timbul kesan luas, bahwa teror -yang sebenarnya hanya teori itu menjadi fakta.

Penting untuk dipahami -mengikuti metoda ilmiah yang ketat-, bahwa atas fakta yang sama, kita dapat menyusun teori alternatif yang berbeda : "Indonesia diserang". Teori ini telah dipakai oleh Amerika Serikat sewaktu menghadapi fakta keruntuhan 2 menara kembar World Trade Centre di New York 11 September 2001yang lalu. Beberapa jam setelah peristiwa itu,GW. Bush, dan juga koran Amerika Serikat mengatakan bahwa :"USA under attack !", kemudian segera mencari kambing hitam di luar USA : Osamah bin Laden dengan jaringan Al Qaedah-nya.

Bangsa Indonesia tidak menyadari, bahwa kini USA menerapkan teori yang sama untuk lokasi lain, yaitu tanah air mereka sendiri : Indonesia. Faktanya adalah bahwa di Indonesia (Bali) telah terjadi serangkaian ledakan bom yang telah menewaskan ratusan orang (sebagian besar orang asing), dan ratusan lainnya luka-luka. Dengan teori "serangan teroris" itu, kini USA menuding tersangka yang sama (al qaedah), dengan kombinasi lokal (Jamaah islamiah), padahal yang dirugikan adalah Indonesia !. Bagi USA, ledakan bom di Bali itu adalah bukti bahwa teroris ada di Indonesia sebagaimana yang telah di "teorikannya" selama ini.

Liputan media juga amat tidak seimbang. Respons cepat sebagian penduduk Denpasar seperti para relawan muslim PAN Bali untuk melakukan pertolongan atas ratusan korban bom di Legian -kurang dari 2 jam setelah ledakan- juga sama sekali tidak diliput oleh media massa. Namun justru kegiatan aparat dan orang-orang sebuah organisasi yang datang terlambat, baru dibentuk, justru diliput habis-habisan oleh media massa. Sebagian orang Indonesia, dan juga orang asing yang pro kampanye anti-teror Amerika, tentu mengira bahwa disinformasi ini menguntungkan mereka, padahal tidak. Setiap disinformasi akan diikuti oleh disinformasi berikutnya yang tidak akan sustainable.

TEORI SERANGAN TERORIS

Beberapa hal berikut merupakan "tindaklanjut" dari teori ini. Bisa dipastikan, para penyelidik gabungan internasional (dibantu FBI USA dan AFP Australia) yang sekalipun dipimpin POLRI, akan bertindak diatas pijakan hipotesis "serangan teroris"ini. Bisa diperkirakan bahwa para penyelidik akan dengan mudah menemukan "bukti-bukti" melalui serangkaian penangkapan para "teroris" -lebih tepat diteorikan sebagai teroris- tersebut di berbagai daerah di Indonesia. Di tingkat ini, banyak penyelidik POLRI -bahan Menteri Pertahanan dan Menko Polkam -yang kurang menyadari bahaya dari teori "serangan teroris"ini bagi bangsa Indonesia. Karena kalau teori "serangan teroris"ini diikuti terus, akan banyak lagi "bukti-bukti serangan teroris" yang sengaja dibuat oleh pihak-pihak yang tidak menghendaki Indonesia sebagai negeri yang kuat, dan bangsa Indonesia akan terpecah belah, dan hancur infrastruktur sosio-ekonominya.

Bahkan pimpinan POLRI tidak menyadari "jebakan metoda ilmiah" ini yang tampaknya tidak dikuasai oleh banyak aparat hukum Indonesia (menurut catatan Saya, berbeda dengan di USA, di Indonesia, lulusan SMU yang pintar sedikit yang mau masuk fakultas hukum,dan akademi kepolisian. Mereka yang pintar berjuang untuk diterima di fakultas teknik dan kedokteran. Kelucuan-kelucuan dunia peradilan dan hukum di Indonesia akhir-akhir ini sebagian besar disebabkan oleh karena mereka yang masuk fakultas hukum bukan dari mereka yang terbaik).

"Tindak lanjut" berikutnya adalah kemarahan orang Australia, dan kepergian orang-orang asing dari Indonesia akibat dianjurkan pergi meninggalkan Indonesia karena Indonesia dianggap merupakan sarang teroris. Bila ada bom-bom berikutnya, itu daftar bukti tambahan bahwa memang banyak teroris berkeliaran di Indonesia. "Serangan-serangan teroris"lain bakal akan terjadi di sarana transportasi, perdagangan, dan wisata, dan Indonesia justru kembali sebagai tertuduh.

Sabtu ini kita mendengar bahwa Ustadz Abu Bakar Baasyir -orang yang dikenal konsisten dengan "garis keras"nya (inipun mengikuti teori ini)- dinyatakan sebagai tersangka, walaupun bukan untuk kasus Bom Bali, tapi berdasarkan pengakuan UmarAl Faruq (who the hell is this guy, after all?) ke FBI/CIA mengenai beberapakasus pemboman di Jakarta dan rencana pembunuhan Presiden Megawati. Bila USA lebih percaya pada omongan Umar Al Faruq daripada ustadz Baasyir tentu dapat dipahami,tapi bila orang Indonesia yang waras juga lebih percaya pada Al Faruq si Mr. X daripada ustadz Baasyir,ini sudah kegilaan. Sulit dipahami bahwa orang sekaliber Susilo Bambang Yudhoyono lebih percaya Pada Mr.X Al Faruq ini.

TEORI ALTERNATIF : INDONESIA DISERANG

Perspektif luas yang kini dibangun oleh media massa ini merupakan Keanehan yang luar biasa, untuk tidak mengatakan kebodohan -bahkan pembodohan- bangsa Indonesia. Seharusnya, kitalah yang menggunakan teori itu : Indonesia diserang (Indonesia under attack)!. Bila teori ini yang kita pakai, maka yang paling masuk akal adalah "menuduh orang lain (orang asing) yang melakukannya, bukan malah menuduh orang Indonesia sendiri ! Di atas teori ini, kita dapat mencari "bukti-bukti"yang diperlukan, dan mengambil langkah-langkah mandiri, misalnya memeriksa secara ketat wisatawan asing, terutama para agen-agen asing, juga memeriksa seluruh kapal-kapal dagang dan kapal perang asing yang masuk ke wilayah Indonesia.

Kitalah yang sepatutnya marah karena industri pariwisata kita hancur (bukannya menjadi sasaran kemarahan rakyat Australia),dan kantor-kantor konsulat asing yang kita curigai seharusnya diminta untuk ditutup (bukan mereka tutup sendiri karena adanya ancaman teroris).

Dari sudut pandang apapun, hampir-hampir tidak ada orang Indonesia yang diuntungkan -termasuk jaringan Jamaah Islamiah berbasis Indonesia- dari peledakan bom tersebut, dan tewasnya ratusan turis. Sasaran-sasaran yang mustinya diserang oleh Al Qaedah adalah sasaran-sasaran kepentingan Amerika Serikat di Indonesia seperti Exxon di Aceh, Freeport di Papua , dsb., bukannya Bali dan turis-turis Australia. Setidaknya, Al Qaedah tidak menuduh orang lain atas beberapa tindakannya selama ini -ini yang menyebabkan Osamah bin Laden tampak lebih gentleman dari GW Bush.

Dengan mengatakan bahawa "Indonesia di serang", seluruh unsur bangsa ini niscaya akan merapatkan barisan (seperti yang dilakukan oleh bangsa AS menghadapi kambing hitam Al qaedah), tidak justru berpecah belah. Bahkan, kini saatnya seluruh komponen bangsa melupakan perbedaaan-perbedaan mereka untuk bersatu menyelamatkan bangsa ini dari proses balkanisasi melalui permusuhan antar suku, antar kelompok, sipil melawan militer, bahkan antar agama.

PENUTUP

Kejadian ratusan korban tewas dan luka-luka akibat bom di Legian, Kuta patut disesalkan, dikutuk, dan dihentikan. Persoalannya adalah : kita -termasuk elite negeri ini - mau memilih teori "serangan teroris", atau "Indonesia diserang!". Pilihan teori "serangan teroris" yang kini menjadi main stream akan -dari sudut manapun- tidak menguntungkan Indonesia, dan berpotensi untuk menjadikan Indonesia sebagai Jugoslavia jilid berikutnya kehancuran infrastruktur sosio-ekonominya, terpecah-belah dan hilang dari peta dunia. Yang perlu dicamkan seluruh masyarakat Indonesia adalah bahwa Jamaah Islamiah, Ustadz Baasyir, ummat Islam, bahkan bangsa Indonesia seluruhnya (tidak peduli agama mereka), dan juga para backpackers bersandal jepit di Kuta yang tewas akibat Bom Legian tersebut bagi master mind perang persepsi ini adalah besaran yang disposable (tidak berarti untuk dimusnahkan), dibandingkan kepentingan mereka untuk menghancurkan bangsa ini.

Yang menjadi persoalan tambahan adalah bahwa "ruang publik" pada halaman-halaman koran dan monitor TV kita dihujani oleh pilihan teori "serangan teroris" ini, sedangkan alternatif teori "Indonesia diserang" tidak memperoleh liputan yang cukup.

Pilihan yang tepat adalah pilihan teori "Indonesia di serang". Dengan teori ini, bangsa Indonesia dari seluruh lapisan, kelompok, suku dan agama, sipil dan militer akan merapatkan barisan untuk mempertahankan diri melawan "musuh bersama" yang hendak memecah-belah bangsa ini. Kita tidak hanya akan menolak tuduhan Indonesia sebagai bangsa Teroris, tapi kita akan menolak penghancuran infrastruktur sosio-ekonomi kita. Kiranya Tuhan memberi kesanggupan bangsa ini untuk memilih teori yang tepat.

____________________________
INDONESIA DISERANG !
D. Mohammad Rosyid
Pembantu Rektor IV ITS Surabaya
Telp./fax 031-5923411, e-mail : pr_4_its@its.ac.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar