Rabu, 26 Agustus 2009

penelitian tentang puasa

Peneliti: Puasa itu Menyehatkan!

Tak seperti di Indonesia, di Belanda tak banyak ditemukan studi tentang Ramadhan dan puasa. Tapi kajian di Belanda, puasa tetap menyehatkan

Hidayatullah.com--Sudah disepakati bahwa puasa umat muslim tidak baik bagi kesehatan orang sakit. Tapi apakah baik bagi kesehatan secara umum? Atau ini hanya sekedar praktik agama yang tidak ada kaitannya dengan kesehatan?

Islam tidak memaksakan puasa, kecuali bagi orang muslim dewasa yang sehat. Pasien yang mengidap penyakit kronis dan hidup pendek, dibebaskan darinya.

Banyak cendekia hukum syariah mengatakan, puasa dilarang apabila merugikan kesehatan. Walaupun disepakati puasa tidaklah sehat bagi orang-orang sakit, tapi ada perbedaan pendapat mengenai manfaatnya bagi orang sehat.

Orang muslim mengatakan, Nabi Muhammad berkata: ''Berpuasalah supaya sehat". Sejumlah cendekia muslim berupaya mendapatkan dukungan dari dokter untuk membuktikan 'manfaat puasa bagi kesehatan'.

Banyak media yang mengalokasikan waktu siarnya setiap tahun untuk menyoroti manfaat puasa bagi kesehatan selama Ramadhan dan resiko kesehatan bagi mereka yang sakit apabila berpuasa.

Manfaat piskologis

Dokter Muhammad Alabdoni, Ketua Asosiasi Dokter Maroko Belanda, menolak keberadaan bukti ilmiah manfaat puasa Islam terhadap fisik, tapi ia mengatakan hal itu mungkin bermanfaat bagi kesehatan psikologis.

"Aspek positif berpuasa selama Ramadhan berkaitan dengan relaksasi yang timbul akibat sembahyang, yang meningkat selama bulan suci. Praktik pemujaan ini bisa memberi rasa rileks secara piskologis maupun fisik."

Di pihak lain, Dr. Alabdoni menjelaskan, puasa memiliki sejumlah dampak negatif terhadap kesehatan, tapi tidak menganggap hal itu 'merusak'.

"Dampak puasa terhadap orang sehat sangat terbatas. Dampak negatifnya adalah ketidaknyamanan, terutama di hari-hari awal puasa, seperti pusing, mual, ngantuk, dan sebagainya."

Menurut Alabdoni, apa yang dikatakannya itu adalah pendapat yang ada di kalangan profesi medis, setidaknya di Belanda. Ia mengakui, tidak ada studi ilmiah mengenai dampak puasa selama Ramadhan terhadap kesehatan, khususnya di Belanda.

"Studi-studi hanya ditujukan pada orang sakit, terutama pasien penyakit kronis. Ada banyak studi dalam bidang ini tapi mereka tidak memperhatikan dampaknya terhadap orang sehat."

Makan berlebihan

Dr Alabdoni belum pernah diminta media untuk berbicara mengenai dampak puasa selama Ramadhan, tapi ia biasanya menerima banyak pertanyaan dari kenalan mengenai dampak puasa terhadap kesehatan.

Ia menjelaskan, resiko yang muncul akibat gaya puasa populer, yaitu menghindari makanan dan minuman sepenuhnya selama siang hari dan makan besar sesudah buka puasa. Mereka yang bertanya padanya, mengaku menghadapi masalah ini selama Ramadhan, yaitu makan berlebihan dalam waktu singkat.

"Banyak orang setuju dengan saya ketika saya mengatakan puasa sekarang ini tidak membuahkan hasil seperti yang dimaksudkan oleh puasa Ramadhan. Mereka mengakui terlalu banyak makan gula dan lemak sesudah buka puasa, dan ini menyebabkan naiknya berat badan, bukannya mengurangi berat badan seperti yang diharapkan dalam puasa."

Mengomentari para dokter yang muncul di televisi Arab selama bulan Ramadhan, berbicara tentang manfaat puasa bagi kesehatan, Dr Alabdoni mengatakan, hak dokter bersangkutan apakah ia mau turut serta dalam acara televisi mengenai puasa.

Tapi, demikian tambahnya, harus ada pemisahan jelas antara profesi medis dengan profesi agama. [rnwl/www.hidayatullah.com]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar