Jumat, 28 Agustus 2009

Mujahid Logistik Ramadhan

Ramadhan ibarat sebuah magnit yang menarik perhatian setiap benda yang memiliki masa sejenis dan sekutub. Yang tadinya jauh, perlahan mendekat dan merapat. Beberapa masjid, mushalla dan surau yang tadinya dapat dikatakan mati suri kecuali saat Maghrib dan Isya menjadi lebih hidup, semarak dan menyeruak syi’arnya. Baik dengan penampilan fisik; cat tembok, lampu, kipas angin, pengeras suara, sajadah dan bahkan mimbar yang baru, manusia pun membludak hingga tempat suci itu tak kuasa menampung jamaah yang antusias menghadiri jamaah.
Rumah Allah menjadi padat dengan berbagai aktivitas. Sejak mulai Shubuh sampai bertemu Shubuh lagi. Lantunan ayat suci, nasehat Ramadhan, berbuka puasa bersama, tarawih adalah di antara syi’ar yang sangat menonjol kehadirannya. Semuanya dalam rangka menyambut dan mengisi Ramadhan yang penuh berkah.
Kita menjadi maklum apabila perubahan itu terjadi pada wilayah masjid, surau dan mushalla. Ada pergeseran signifikan pada dimensi iman dan ketaatan. Tetapi entah apa yang harus dikatakan, bahwa perubahan itu juga nampak pada dunia hiburan. Stasiun televisi menawarkan berbagai paket yang ”berbau” Ramadhan. Sinetron disetting seolah menghargai Ramadhan dalam alur ceritanya. Para Artis dan penyanyi saling ”berijtihad” membuat lagu dan aransemen musik yang berbau Ramadhan. Jika sebelum Ramadhan imeg publik sudah ”mutawatir” menilai seorang artis atau penyanyi tertentu sebagai ”urakan”, tetapi sejak sekarang ia kelihatan kalem dan terlihat lebih religius.
Bahkan yang kesehariannya amat enjoy mengumbar aurat pun, ikut-ikutan menempelkan kerudung, mengundang dan menyantuni anak yatim serta tanpa beban bicara nilai-nilai agama dan sebagainya.
Pada kutub yang berbeda, para tokoh tertentu yang dikenal sebagai ustad, da’i atau penceramah yang sudah sangat familiar di layar kaca tidak lagi hanya fasih menyampaikan ayat-ayat suci atau hadits-hadits syarif. Sadar atau tidak, ada di antaranya telah masuk ke wilayah periklanan berbagai produk barang dan jasa meskipun tetap dalam ”bahasa” Ramadhan. Gelar mereka jadi bertambah tidak hanya ustadz, da’i atau penceramah. Rupanya para produsen sangat jeli memanfaatkan momentum Ramadhan, meskipun mereka belumlah tentu seorang yang ”mendapat panggilan” untuk berpuasa.
Jika Ramadhan dimaknai sebagai kesempatan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, siapapun pelakunya berhak mendapat apresiasi, tentu penghargaan tertinggi datang dari Allah SWT. Ini jauh lebih mulia dari pada tidak ada usaha perubahan sama sekali. Namun alangkah naifnya, jika hal itu tidak lebih hanyalah strategi bisnis, bertujuan menyalakan lagi pamor ketenaran yang hampir redup, menangkap peluang hiburan guna meraup keuntungan semata, rating yang melambung dan merebut sebanyak-banyaknya pemirsa. Sebab ternyata ada juga nilai kontradiktif dari acara hiburan yang berbau Ramadhan itu.
Dampak langsung darinya seperti, secara tidak sengaja malah mengalihkan sebagian kaum muslimin dari segera berangkat menuju tarawih, tetapi masih tetap khusyu di depan layar televisi mereka karena acaranya yang dikemas apik dan menarik. Tapi tentu ini mungkin hanya kasus saja. Lepas dari itu, Allah tetaplah Maha Kasih Yang Tak Terbatas kasih-Nya. Dengan Rahman dan Rahim-Nya, Ia tetap memberikan balasan sesuai kadar, niat dan motivasi di balik hati pelaku perubahan itu.
” .... Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. ...” (Terjemah QS. Ali Imran [3] : 145).
Ya, segala hal yang tadinya biasa-biasa menjadi luar biasa dan istimewa ketika Ramadhan merapat dan akhirnya hadir di tengah-tengah medan hidup kita. Utamanya bagi manusia-manusia beriman.
Perubahan dan padatnya aktivitas mengisi Ramadhan juga terjadi di ruang dapur. Berbeda hampir seratus enam puluh derajat dari perubahan yang telah disinggung di awal, perubahan aktivitas urusan logistik ini melibatkan seorang wanita; seorang isteri bagi suami dan ibu bagi anak-anak yang berpuasa. Mungkin bagi segelintir orang, itu adalah hal  biasa. Tapi tidak bagi kebanyakan keluarga. Mungkin bagi keluarga yang mempekerjakan pengasuh atau pendampingan kerja rumahan, hal itu bisa jadi amat biasa dan tidak istimewa. Tapi tidak demikian bagi keluarga sederhana yang lebih banyak mengandalkan keikhlasan atas keterampilan dua belah tangan seorang wanita.
Dari tangannya yang terbatas, ia bisa menghidangkan karya besar. Menyiapkan makan sahur yang dilakoninya sejak jam setengah tiga pagi. Di sela-sela memasak, ia juga harus berbagi dengan menghibur si kecil yang rewel karena ini dan itu. Kadang ia adalah yang paling akhir menyuap hidangan sahur. Itupun masih harus sambil memangku si kecil yang belum hilang rewelnya.
Usai hajat sahur selesai, pekerjaan beres-beres dan berbenah dari sisa peralatan makan harus dibersihkan dan ditata kembali di tempat semula. Bisa jadi, sang suami dan anak-anak telah berangkat untuk jamaah Shubuh, ia masih setia ngeloni si kecil dan mempersiapkan baju kerja suami dan perlengkapan sekolah anak-anaknya setelah kelonannya tertidur pulas. Meskipun penat dengan segala urusan itu, ia tidak luput bersyukur.
Gilirannya mengambil air wudhu, mengenakan mukena dan khusyu dalam rangkaian mula takbir dan akhir salam. Tangannya tetap menengadah meminta keridhaan dan keikhlasan hati meskipun tangannya menjadi kasar karena menjadi dua kali lebih keras bekerja dan lebih sibuk dari biasanya.
Ketika mukena ditanggalkan, kewajibannya tetaplah bergantung padanya. Pakaian kotor telah memenuhi sudut matanya minta dicuci. Bagi segelintir orang, meskipun mesin elektrik telah tersedia yang dapat mengubah kotor dan bau pesing baju celana menjadi harum bersih, lembut dan licin, ia masih mampu mengupah orang untuk memasukkan saklar aliran listrik dan memencet tombol mesinnya. Mesin bekerja, di sampingnya tuan rumah menunggui sambil membaca koran, menonton televisi atau asyik di layar facebook. Lalu, pakaian kinclong sendiri dan telah siap untuk dilicinkan tanpa harus dijemur matahari kemudian siap pakai. Tapi bagi keluarga amat bersahaja, lagi-lagi pakaian itu hanya disentuh, diperas dan dikucah oleh tangan wanita yang sama. Tapak tangannya tidak terlindung dari alergi deterjen. Maka iritasi kulit menjadi hal biasa, sela-sela jemarinya melepuh, kusam dan terkelupas. Kukunya pun menjadi tidak karuan. Tapi, ia tetaplah wanita sabar, isteri yang salihah dan pendamping yang setia untuk suami dan anak-anaknya. Ditariknya seutas tali di antara dua tiang dan disangkutkan pakaian bersih di atasnya. Lalu diserahkan pada kebaikan alam. Jika matahari berkenan hadir, ia akan kering hari itu. Tetapi jika mendung dan hujan yang datang, ia harus bersabar untuk satu dua hari menunggu kering pakaiannya.
Subhanallah, wanita ini tidak kehabisan energi. Ia masih harus berpikir, apa yang harus ia hidangkan untuk lauk berbuka puasa orang seisi rumah nanti sore. Maka tukang sayur menjadi perburuannya yang lagi-lagi bagi segelintir orang tinggal membuka kulkas atau cukup menyuruh si Mbok pergi ke supermarket untuk memenuhi kebutuhan hari itu atau untuk seminggu ke dapan.
Ketika jam tiga sore menjelang Ashar tiba, kesibukan beralih lagi ke dapur. Lipatan pakaian yang telah kering dipanggang seharian sementara ditinggalkan, untuk selanjutnya dilindas mesin setrika setelah Isya dan Tarawih berlalu. Lagi dan lagi, mengupas, merajang, merebus, menggoreng, memanaskan, menumis sampai semua keperluan yang dirasa cukup untuk berbuka dan makan malam telah tersedia. Hatinya puas dan lega semuanya dapat dilalui. Bertambah puas dan lega menyaksikan suami hingga anak yang terkecil yang baru belajar berpuasa amat menikmati hidangannya. Tinggalah piring dan gelas yang harus kembali disterilkan dan dikembalikan lagi dalam rak pecah belah.
Entahlah, apa karena sebab keihklasan dan predikat salihah yang disandangnya semua pekerjaan itu dapat dibereskannya. Atau di balik itu, ia menyimpan harapan manusiawi untuk dapat menjadi seperti wanita yang segelintir itu, tanpa berpayah-payah memeras tenaga dan keringat hanya untuk urusan logistik rumah tangga. Segelintir wanita yang mungkin mustahil menanggung beban seperti dirinya. Sebab jam setengah tiga pagi nanti ia harus mengulangi lagi rutinitas yang sama untuk sebulan penuh lamanya atau bahkan sepanjang waktu pengabdiannya.
Wahai Engkau wanita pekerja rumah, penat dan letihmu tidak akan sia-sia. Pengabdianmu untuk hidangan berbuka dan sahur bukanlah hal biasa, ia adalah istimewa. Engkau adalah wanita mulia, mujahid logistik di rumah tangga. Kalaulah boleh dianalogikan dengan sebuah riwayat yang dituturkan Sa’ad, engkau lebih pantas menyandangnya saat ini.
Sa’ad bin Mua’dz al-Anshari suatu saat berkisah bahwa ketika Nabi SAW. baru kembali dari perang Tabuk, beliau melihat tangan Sa’ad yang kasar dan melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman karena diterpa sengat matahari. “Kenapa tanganmu wahai Sa’ad?”, tanya Nabi. “ Karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk memenuhi nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Nabi SAW mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata,” Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka”.
Kisah di atas menggambarkan penghargaan Rasulullah kepada pekerja keras yang ulet dan tekun. Kedudukan mereka sangat istimewa yang disebut sebagai orang yang tidak akan tersentuh api neraka karena nilai kerja keras, ulet dan ketekunannya. Tidak tersentuh api neraka berarti akan mendapatkan surga sebagai keberhasilan akhiratnya. Sementara di dunia, pekerja keras yang ulet dan tekun akan memperoleh apa yang dicita-citakannya.
Para suami hendaknya jeli apabila sang isteri adalah pelaku seperti Sa’ad yang berjibaku menghadirkan kegembiraan saat Ramadhan untuk dirinya dan keluarga. Maka, air dan hidangan yang anda nikmati saat berbuka dan sahur adalah bukan sekedar kegembiraan atas jerih payahnya karena disantap lahap. Tetapi juga menjadi tabungan amal soleh yang akan mengantarkannya ke pintu surga Royyan. Sekali lagi, kalaulah boleh dianalogikan riwayat yang menyatakan bahwa memberi lauk untuk berbuka sama pahalanya dengan orang yang berpuasa, maka “berjihad” memproses bahan dasar makanan hingga menjadi hidangan yang siap disantap adalah semoga bagian dari itu.
Para suami wajarlah pula menggantikan posisi Nabi terhadap Sa’ad kala itu. Raihlah tangan isteri kita, cium kedua telapaknya dan iringilah dengan pujian tulus seraya memohon keikhlasannya atas apa yang telah dipersembahkannya. Maka, akan punahlah keletihan dari pundaknya perlahan, bahkan bisa jadi akan ada setitik mutiara halus di pinggir bola matanya yang menitik haru biru, bahagia dan tulus. Selamat mencoba. Semoga Ramadhan menjadi penuh warna dan dinamika panen raya pahala. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.
Ciputat, 25 Agustus 2009.
Dedikasi untuk para isteri salihah.
abdul_mutaqin@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar