Selasa, 18 Agustus 2009

Rahasia Keseimbangan

Rahasia Keseimbangan


Allah SWT berfirman : " maa taraa fii khalqirrahmaani min tafaawut ". Coba kita perhatikan secara teliti bagaimana Allah menciptakan alam ini di atas dasar keseimbangan. Para ahli ilmu pengetahuan sepakat tentang hakekat keseimbangan ini. Coba kita perhatikan, seandainya jarak antara matahari dan bumi bergeser, dan keluar dari orbit keseimbangannya, niscaya akan terjadi bencana kosmic yang luar biasa. Di dalam tubuh kita sendiri, hakikat keseimbangan ini kita rasakan, jika suatu saat metabolisme dalam tubuh kita tidak berfungsi secara seimbang, dan penyebaran darah hanya berjalan pada bagian-bagian tertentu saja, pasti di bagian yang tak kebagian darah itu akan terjadi kemacetan. Akibatnya kita tidak bisa lagi menikmati tubuh kita secara normal.

Al-Qur'an demikian tegas menyingkap hakikat keseimbangan ini. Salah satu ayatnya berbunyi : "wafii anfusikum afalaa tubshiruun", Ayat tersbut seakan menyindir kita agar selalu merenungi bukti-bukti kebesaran dari apa yang paling dekat dengan kita. Dari apa yang kita rasakan dan kita nikmati. Dan sebagian dari sisi kebesaran Allah yang kita temukan dalam tubuh kita adalah adanya titik keseimbangan ini.

Mengapa hakikat keseimbangan ini demikian penting untuk kita pahami? Pertama : Karena mengikuti keseimbangan adalah fitrah manusia, dan fitrah segala eksistensi kehidupan ini. Bila kita keluar dari titik keseimbangan ini, pasti kita akan terpencilkan dari alam ini. Allah memutar zaman, atas dasar keseimbangan antara siang dan malam. Dan jika seandainya zaman ini berjalan hanya dengan waktu siang saja, atau malam saja, niscaya - kata Imam Syafi'ie dalam salah satu saya'irnya -, manusia akan bosan. Akibatnya tidak ada perkembangan. Sebab dari kebosanan itu akan terjadi tekanan psikologis secara total, dimana pada gilirannya akan membuntukan segala kemungkinan untuk berkembang dan produktif. Begitu juga Allah mempertahankan wujud manusia atas dasar keseimbangan antara laki dan perempuan. Seandainya di dunia ini hanya terdiri dari kaum hawa saja, atau kaum adam saja, pasti tidak ada lagi kontinuitas kehidupan ini. Satu hal lagi, burung-burung yang beterbangan di angkasa itu, pasti akan jatuh jika salah satu sayapnya tiba-tiba tidak berfungsi.

Kedua : Al-Qur'an yang Allah turunkan sebagai petunjuk bagi manusia di muka bumi ini, bercirikhaskan keseimbangan. Para Ulama menegaskan bahwa di antara sisi yang paling menonjol dari mukjizat Al-Qur'an adalah karena keseimbangan bangunan Al-Qur'an itu sendiri. Tidak ada - sekali lagi kata Ulama - huruf, kalimat, ayat, dan surat dalam Al-Qur'an kecuali terletak pada tempatnya. Tidak ada satu kalimat pun yang dianggap sinonim, bisa menggantikan kalimat yang semisalnya dalam sebuah ayat. Dan bila kita mencoba - lagi-lagi menurut penegasan Ulama - untuk mengganti salah satu kalimat Al-Qur'an dengan kalimat yang kita miliki, sungguh akan terjadi ketidak seimbangan dalam ungkapan Al-Qur'an. Tidak hanya itu, Al-Qur'an memaparkan "hidayahnya " dengan penuh keseimbangan. Siapapun yang membaca Al-Qur'an, bakal menemukan betapa semua permasalahan ditampilkan secara bergendengan. Hal-hal yang berkenaan dengan masalah ibadah dituturkan secara bergandengan dengan masalah akidah, sosial, ekonomi dan seterusnya, tanpa ada jarak dan keterputusan. Dari sini kita melihat bahwa Al-Qur'an tidak membedakan antara hal-hal yang bersifat ruhani dan yang bersifat fisik, antara yang duniawi dan yang ukhrawi, antara yang berkenaan dengan masalah sosial, ekonomi dan yang masalah ibadah, antara agama dan negara. Semuanya di mata Al-Qur'an harus dijalankan secara seimbang di atas petunjuk Allah, tanpa ada keterpisahan.

Ketiga : Di dalam Islam, kita juga dituntut untuk menyikapi segala dimensi Islam secara seimbang. Ketidakseimbangan kita dalam mengamalkan dimensi-dimensi tersebut bakal melahirkan kesalahpahaman, yang pada gilirannya akan diikuti oleh kesesatan. Karenanya Sayed Qutub (dalam bukunya "khashaisuttasawwur al Islami") dan Al Qardhawi (dalam bukunya "alkhashais ala aamah lil Islam") menegaskan hakikat keseimabangan ini sebagai ciri utama Islam. Sebut saja misalnya beberapa dimensi Islam yang paling pokok, seperti : akidah, ibadah, ilmu, dakwah dan jihad. Bila kita mengambil akidahnya saja, tanpa menghiraukan dimensi lainnya, kita akan terlalu mudah mengkafirkan orang lain. Atau ibadahnya saja kita ambil, kita akan mudah masuk dalam dunia khurafat, yakni menambah-nambah ibadah yang yang tidak ada dasarnya. Atau ilmunya saja, kita akan selalu menjadikan Islam sebagai objek kajian, dari diskusi ke diskusi dan seminar ke seminar. Atau dakwahnya saja, kita akan merasa harus berdakwah terus sekalipun tanpa ilmu. Akibatnya, kita berdakwah kepada kesesatan dengan tanpa kita rasakan. Atau jihadnya saja, kita akan tidak sistematis dalam menentukan kapan harus berjihad dan kapan tidak. Dengan siapa harus berjihad?. Di mana jihad itu harus digelar? Sungguh saya melihat bahwa timbulnya konflik internal Umat Islam yang demikian berkepanjangan ini, adalah karena banyak di antara umat Islam sendiri yang masih memandang Islam secara parsial, tidak seimbang dan utuh. Sepenggal-sepenggal dan tidak komprehensif.

Keempat : Jika memang keseimbangan adalah fitrah manusia dan fitrah segala wujud, sungguh tidak mustahil, paradaban manapun -Barat maupun Timur � yang tidak berjalan di atas garis keseimbangan ini, pasti bakal runtuh cepat atau lambat.


_______________
Amir Faishol Fath,
Tafsir Al-Qur'an, International Islamic University Islamabad

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar