Selasa, 18 Agustus 2009

Information Technology... Anugerah atau Bencana?

Information Technology... Anugerah atau Bencana?
Oleh: Lalu Ibnurusd Alhafied


Seorang bocah bertanya kepada gurunya di sekolah: �Apakah penemuan-penemuan baru mesin atau bidang tehnik lainnya akan membawa manfaat atau malapetaka bagi manusia?� Pertanyaan kontroversial diatas sudah lama dikenal sehingga tanpa segan-segan saya menulis kalimat berikut: �orang dapat menggunakan pisau untuk mengiris roti atau untuk menusuk orang lain.�

Apa yang dihasilkan oleh penemuan baru dibidang tehnik tidak tergantung kepada tehnik an sich tetapi kepada manusia yang memakainya. Terdapat banyak tehnik yang membawa perdamaian namun ada juga yang bersifat memusnahkan. Bahkan banyak hasil penemuan tehnik tidak bisa menolak asal-usulnya, pisau misalnya tidak secara khusus ditemukan manusia dengan tujuan untuk berbagi roti dengan teman atau dengan orang lain. Kenyataanya orang akan tetap memandang pisau bersama sifat senjata tajamnya. Sebaliknya alat cetak buku sampai hari ini dipandang sebagai penemuan yang membawa perdamaian. Gutenberg menemukan alat itu tidak untuk menyebarkan kebohongan dan kebencian, juga tidak untuk menjual barang ataupun memasarkan iklan. Hal pertama yang menyatukan Gutenberg dengan penemuannya adalah alat cetak Bibel. Belakangan buku berperan sebagai penyebar ide-ide pencerahan dan penyebaran ilmu pengetahuan, dan bahkan telah membantu menggoyang kekuasaan atau kelaliman mutlak para penguasa tirani. Buku pernah menjadi simbol perlawanan terhadap kekuatan laras senapan serdadu penguasa. Sampai saat ini banyak diktator masih takut akan (kekuatan) buku. Masih sampai hari ini spirit kemanusiaan melekat pada buku...

Adapun penemuan tehnik komputer tampak dari sudut pandang ini berada pada posisi netral. Dari sini terdapat dua jenis computer yang saling berlawanan yaitu mainframe dan personal computer. Yang pertama telah jelas sebagai instrumen kekuasaan dan menyatu dengan perusahaan multinasional IBM. Yang kedua terbentuk dari protes terhadap dominasi kekuatan diatas dan telah menjadi instrumen sikap demokratis serta erat kaitannya dengan perusahaan Apple serta gerakan pemberontakan kaum muda. Tetapi penulis skenario dan dibelakang keduanya tetap saja Pentagon. Mainframe ataupun PC bisa dimanfaatkan dengan sangat baik oleh kalangan militer. Jika mengamati kedua penemuan tersebut secara lebih mendalam serta hubungannya dengan silicon sampai internet maka komputer adalah sebuah produk militer dan oleh karena itu merupakan sebuah tehnik yang lebih mengarah kepada agresifitas daripada perdamaian, lebih kepada permusuhan daripada keharmonisan hubungan sesama manusia.

Hegemoni Informasi

Komputer sebenarnya sama saja seperti pisau tetapi orang tidak bisa melihat kesamaanya secara langsung sebab komputer tampak sangat indah dan menawan hati. Sebuah PC dengan monitor didampingi sebuah printer tertata rapi diatas meja, kelihatan seperti barang kantor yang biasa dan bersahabat. Orang tidak sadar dibalik banyaknya kabel-kabel yang keluar dari belakang komputer salah satunya melewati tembok kamar dan rumah lalu menghilang sampai kedasar bumi. Kemudian dibawah sana bercabang lagi dan dihubungkan lagi dengan kabel-kabel lain yang tidak tampak melalui seluruh negeri, melewati batas lautan dan benua dan komputer dirumah dihubungkan dengan jutaan komputer lain di setiap pojok dunia. Sebuah jaringan dipasangkan diantara kita, diantara setiap orang di seluruh dunia namun orang tidak melihat jaringan tersebut, karena orang tidak mau melihatnya, orang juga tidak melihat bagaimana jaringan itu digunakan. Seandainya kita bisa melihat maka banyak yang akan tercengang karenanya.

Lalu orang saling bertukar informasi, saling mengirim data: usulan kontrak, perjanjian penting, data-data perusahaan, telefon, persengkongkolan kriminalitas, akte pemerintahan, software, gambar-gambar, musik, video sampai kepada surat-surat cinta. Semua data dijamin keamamannya oleh sistem pengunci data. Bila ada yang ingin membobol maka arus data langsung terhenti dan secara otomatis diregistrasi.

Namun data-data tersebut tidak seaman yang dibayangkan orang, apa yang orang biasa atau hacker tidak bisa menembusnya, bisa dilakukan dengan mudah oleh agen rahasia Amerika, National Security Agency (NSA). Dengan sebuah system pengawasan dunia bernama Echelon, mereka bisa menyadap semua isi telefon, setiap E-Mail atau arus data dari mesin fax dan itu tidak tergantung apakah arus data disalurkan melalui kabel atau satelit. Keyataan bahwa negara Amerika menguasai arus data informasi dunia sudah terdengar sejak lama bahkan telah dipublikasikan oleh seorang wartawan Selandia Baru Nicky Hager pada tahun 1996 dengan judul buku �Secret Power�. Tetapi baru sejak awal tahun 1999 dinyatakan secara resmi oleh hasil studi sebuah badan resmi parlemen Eropa STOA (Scientific and Technological Options Assessment) yang membeberkan secara terperinci bagaimana sistem penyadapan NSA bekerja. Menurut studi ini, Echelon bisa mengerjakan tanpa hambatan dan tanpa memilih data informasi dalam jumlah yang sangat besar, yang dibantu oleh sebuah program artificial intelligence dalam menelusuri kata kunci serta kunci data-data, menyerang seluruh bangsa dan bisa menerjemahkan seluruh bahasa nasional dunia. Pusat perhatian sistem pengawasan Echelon tertuju terutama kepada tingkat pemerintahan, organisasi-organisasi penting dan sistem ekonomi. Informasi-informasi ini lantas digunakan dan dinilai oleh agen-agen rahasia Amerika, Inggris, Australia, Kanada dan Selandia Baru.

Semua manusia bersaudara...kalimat tersebut sampai hari ini tidak pernah benar-benar terwujud. Tetapi apa yang tidak bisa diraih oleh manusia tampaknya bisa diraih oleh penemuan baru teknik. Semua peralatan (informasi) menjadi saudara kecil dan dengan rajin membantu saudara tua dari dinas-dinas agen rahasia dan mungkin kelak akan berperan sebagaimana yang dilakukan saudara tua.

Menurut sebuah berita dari American Management Association hampir dua pertiga para majikan kantor mengawasi karyawan-karyawannya, mengontrol E-Mail, kegiatan didepan komputer bahkan menyadap obrolan mereka di telepon. Kamera pengawas dipasang dimana-mana, mengikuti gerak gerik karyawan di dalam dan sekitar gedung. Karyawan tidak bisa menghindar apalagi melawan, karena ketika sebelum memulai bekerja di perusahaan itu mereka telah menandatangani kontrak perjanjian kerja, yang didalamnya menyutujui adanya kamera pengawas. Global Internet Liberty Campaign melaporkan bahwa lebih dari 90 negara secara illegal mengawasi komunikasi para lawan politik, aktivis HAM, wartawan dan serikat buruh. Bahkan polisi di Swedia dan Norwegia sering mengawasi data warga biasa meskipun bukan terdakwa ataupun dicurigai terlibat kasus kejahatan. Bagi pecandu surfing di internet pasti meninggalkan jejak. Dengan data mining sudah dikenal banyak perusahaan menetapkan untuk mengumpulkan, menilai dan menganalisa jejak-jejak yang ditinggalkan, mencari profil si pemakai kemudian menjualnya kepada yang berminat mendapatkan informasi tersebut.

Ideologi kalifornia

Mengamati perkembangan yang begitu cepat dan revolusioner dari tehnik informasi sampai kepada Cyberspace pada dasarnya berpusat pada keyakinan ideologi yang disebut ideologi kalifornia dengan slogan mereka sebagai berikut: �untuk mengatasi setengah dari seluruh problematika manusia terdapat pemecahan dengan kemajuan tehnik. Setengahnya lagi diatasi oleh pasar. Dan kedua-duanya yaitu tehnik dan pasar akan membawa kita menuju ke masa depan gemilang diiringi kemajuan yang pasti, kepada sebuah masa depan dimana nantinya peperangan, kemiskinan, penyakit, ketuaan, penderitaan dan bahkan kematian dapat diatasi. Satu-satunya yang mengganggu terwujudnya hal tersebut adalah negara..!�

�wahai pemerintah negara-negara industri, kalian raksasa payah berasal dari daging dan baja, aku datang dari cyberspace... dari dunia baru, markas (kebebasan) jiwa� demikian seorang aktivis internet John Perry Barlow memulai postulatnya dengan �pernyataan kebebasan cyberspace�. �biarkan kami bebas!� lanjutnya, �kalian tidak kami terima kehadirannya. Dimana kami berkumpul kalian tidak memiliki kekuatan lagi disana�.

Barangsiapa menginjak kawasan mereka maka tidak ada lagi aturan yang menghalangi mereka seperti kebinalan orang kulit putih pada tahun 1620 di benua Amerika, yang telah membinasakan suku indian lebih dari 300 tahun yang lalu. Cyberspace, imperium ilusi bisa dicermati seperti wild west. Para pengguna, terutama sekali para hacker berkelakuan seperti cowboy, pioner, penakluk daerah baru, pemburu harta atau seperti seorang serdadu, bersama-sama dalam rombongan pencari lahan baru dalam kosmos virtual.

Tetapi kenapa mimpi buruk seperti ini bisa berubah menjadi gaya hidup masyarakat avantgarde, kenapa hal ini kita perbincangkan bahwa cybercultur seharusnya diterapkan, trendy anak muda, modern, en vogue? Kenapa internet diselenggarakan secara menggebu-gebu? Kenapa komputer, notebook dan organizer menjadi produk lifestyle masa kini? Kenapa tehnik informasi diterapkan di dalam kultur anak muda serta kenapa internet sudah menjadi budaya...? Jawabannya, bukan sekadar karena industri ingin menjual produk-produk mereka, tetapi disebabkan karena sebuah (penemuan) tehnik mutakhir memerlukan dukungan orang banyak, karena dengan tehnik baru ini mereka bisa mentransfer kepercayaan akan pentingnya peran tehnik dan pasar, karena kritik terhadap agama baru ini sudah tidak relevan, bila orang percaya bahwa dengan tehnik-tehnik diatas menciptakan lapangan kerja, menyelesaikan masalah-masalah ekonomi, memperbaiki kualitas hidup dan kunci menuju kepada dunia baru. Pada kenyataannya seandainya hampir tidak ada yang melawan jika tehnik benar-benar diterapkan secara menyeluruh dan diharapkan kelak akan melayani manusia, maka kemungkinan yang terjadi adalah sebaliknya.

Mereka berkata �pasar� �maksudnya adalah kekuasaan mereka. Mereka berkata �kemajuan� �maksudnya adalah (penemuan) tehnik mereka. Mereka berkata �kebebasan� �maksudnya adalah keuntungan profit mereka. Mereka berkata �mengurangi peran negara� �maksudnya adalah mengurangi fungsi demokrasi. �MEREKA� adalah orang-orang berpikiran dangkal pada perusahaan-perusahaan raksasa dan para managernya di seluruh dunia termasuk persatuan pengusaha, para pelobi (elite) ekonomi dan para politikus yang terkena pengaruh. Tujuan tertingginya adalah untuk merebut pasar dengan �keniscayaan� kata globalisasi. Tetapi mereka bukanlah pelaku sebenarnya dari apa yang sering kita sebut sebagai �globalisasi�, �perubahan struktur ekonomi dunia� atau �perubahan menuju masyarakat informasi�. Mereka hanya organ pelaksana, berbuat dibawah kontrak orang lain. Orang lain tersebut kebanyakan orang tidak dikenal, pemilik modal raksasa, yang selalu berada dibelakang layar, pialang saham besar, para investor dan para CEO�s perusahaan multinasional.Mereka hanya secuil dari jumlah penduduk dunia. Para pengamat menyebutnya dengan �Shareholder�. Sebab segala tindakan perusahaan dan manager saat ini dan yang akan datang selalu dibuntuti �dan mereka sendiri mengungkapkan hal itu secara terang-terangan- hanya demi satu tujuan yaitu peningkatan�Shareholder value� .

Sekali lagi: �orang dapat menggunakan pisau untuk mengiris roti atau untuk menusuk orang lain.� Tetapi kebanyakan dari pelaku dan pembuat kemajuan tehnik masa kini lebih didasarkan kepada keuntungan ekonomi untuk memperkokoh kekuasaan segelintir orang saja, mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan dihiasi keindahan kata-kata. Ideologi kalifornia merupakan sebuah kemunduran berpikir, sebuah ideologi permusuhan yang menghiasi dirinya dengan kemajuan tehnik dan image anak muda. Itu membuatnya menjadi sangat berbahaya dan menipu. Dan saya khawatir kita juga telah tertipu olehnya...

Penutup

Dengan kemajuan tehnik saat ini terutama di bidang tehnologi informasi memaksa orang membuat kesimpulan bahwa globalisasi tidak dapat ditolak lagi, merupakan suatu keharusan, sebuah keniscayaan. Ia sama sekali bukan takdir buruk, melainkan karunia. Merupakan sebuah kesempatan yang harus dimanfaatkan, sebuah tantangan yang harus diatasi dan seolah tidak ada lagi pilihan lain.

Dari semua ungkapan diatas tidak ada satupun yang benar. Globalisasi bukanlah takdir, melainkan kejadian yang disengaja dari perbuatan manusia. Globalisasi adalah suatu kepasrahan bila kita secara suka rela mempercayakan kendali perbuatan manusia kepada orang lain dan diambil alih oleh tangan gaib yang sering kita sebut dengan pasar.

Lalu siapa saja yang memperoleh keuntungan dari globalisasi? Siapa kekuatan dibelakang perkembangan ini? Mereka terdiri dari beberapa ratus ribu pemilik saham raksasa, para CEO�s dan para investor di Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan beberapa negara anggota OPEC. Tidak ketinggalan tentunya jutaan dari pemilik saham kecil meskipun mereka tidak punya kekuasaan yang besar tetapi hanya mendapat keuntungan sebagai pijakan atau alas kaki dari sebuah Agresifitas bentuk baru Shareholder Value. Mereka dan hanya mereka saja -dibantu oleh kemajuan tehnik informasi- yang mendapat manfaat dari internasionalisasi perdagangan dunia sekarang ini. Yang lainnya kalah.

Mau tidak mau kita harus bereaksi atas keadaan ini dan terdapat hanya dua kemungkinan mendasar. Pertama: membiarkan perubahan keadaan kepada hukum rimba yaitu kekuatan pasar dan nanti setelah phase kekacauan berlalu dengan sendirinya akan menjadi tatanan baru yang stabil lalu selayaknya kita menyesuaikan diri. Kedua: kita tidak dapat menahan perubahan keadaan ini tetapi paling tidak kita mau mengaturnya, memanfaatkan kesempatan dan mencari celah didalamnya serta menghindari risiko atau sekurang-kurangnya mengurangi akibat buruk yang bakal terjadi. Saya kira jalan kedua �yaitu me-manage perubahan secara aktif dan sadar melalui masyarakat yang demokratis- akan mendapatkan suara terbanyak. Bahkan para majikan, pengusaha, manager dan hampir semua politikus pasti akan setuju... pastikah?

Berlin, 17. April 2000
Nara sumber: �Die Machtwirtschaft, ist die Demokratie noch zu retten?�, Christian N�rnberger, dtv M�nchen.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar